Note : karena jaringan yg superb lemot, gw gak bisa upload gambarnya, but I do believe even though you don’t see it, you’ll scream when you watch it!!,hahaha

1. Paranormal activity (1,2,3)
kebetulan gw nonton versi lengkapnya..
PA 1 itu ceritanya agak boring di awal2, tapi gw sangat menikmati di 15 menit terakhir, yaitu adegan paling horor or klimaksnya dr film ini, merinding????, pastinyalahhhh!!
PA 2 jg sama nakutin,cm waktu itu krng dpt feelnya,jd ga konsen deh nnton ini
PA 3, wow, the best horor movie I’ve ever seen kali ya, it looks so realll, editannya rapih, aktingnya pas,jalan ceritanya twist ending,serem,bikin jantung copot, apalgi pas adegan sang Ibu (Julie) nutup pintu trus pas balik ke dapur, semua cooking tools melayang trus jatohhh,gilakkkk,sintingg,rapih bgt syutingnya..

2.The things
diperanin sm Nicole Kidman, ceritanya adalah lo merasa diganggu di rumah, oleh siapa?, mahluk halus tentunya,tapi ceritanya ga flat diganggu gt aja…,ternyata eh ternyata si hantu itu sebenernya si Nicole Kidman sendiri, doi ga sadar klo doi udh meninggal,wuah,gw sm adek gw yg nonton kala itu,ampe mangap ngikutin jalan ceritanya,setting latarnya di rumah klasik dgn halaman berkabut bikin suasana makin mencekam…Btw, cerita ini mirip sm film The Passangers-nya Anne Hatheway, doi jg sm2 ga sadar kalo udh tewas dlm kecelakaan pesawat..

3. Misery
Ini lebih ke cerita psikopat itu, ini tampak si suster nyeremin abis. Begini nih kalo ngadepin obsessed-crazy-freak-fans.., ngilu kalo liatnya. Salut abislah sm yg meraninnya. Meski ini film taun 1990-an tapi tetep enak kok buat jadi tontonan di jaman sekarang

4. The Shutter
Mau yg versi barat / versi Thai, ini intinya sama, ceritanya adalah seorang fotografer yg ngebunuh cewe gitu, n si cewe ini ngikutin dia sampe kmana pun, ya intinya sih, smpe misteri kematian si cewe ini terbongkar. Gak terlalu horor, horornya adalah pas adegan terakhir bgt, yaitu pas nyorot punggung si pelaku di RS jiwa, alasan knp punggungnya membungkuk adalahhhhh..
yup,ditumplek-in sm si hantu tsb..hihihihihihi

5. Ju-On, the Ring, The Ring-O
yap, Hantu ala Japanese style ini selalu ngagetin n sukses ngasi efek serem sm wajahnya..

6. 29th February
Ini korean Thriller movie, jarang bgt nih yg genre kyk gini, no cinta2an, no tampan n no cantik, semuanya pure dari jalan cerita yg super duper twist ending,gilaaa,ini film psycho yg selalu jd saksi kehilangan teman2nya (temen2nya pd dibunuh) dan mengklaim dirinya jg dibuntuti gitu.
Si pelaku ini phobia gelap,jd begitu mati lampu or something yg bikin gelap, the other identity will reveal as murderer,wawawawwwww… Sifat yg demikian ini ternyata disebut halusinasi berat, disebut jg apa-apa delusion gitu,serem deh pokonya

7. Bone Collector
bagus meski ga psycho2 amat..,cm untuk membangun pikiran psycho dasar, boleh liat film ini

8. INCIDIUOUS (ah gilak knp gw taruh di no.8, harusnya no.2/1 ini,ampe lupa)
ni film jempollllllll bgt, meski visualisasi hantunya geje, cm moment2 dihantui itunya loh dapet bgt, kagetnya…,luar biasa,gw yg tahan banting liat horor aja, ampe teriakkkkk *kampungan, wajib nonton ya!!

(to be continued)

 

January 24th, 2012 at 2:01 am | Comments & Trackbacks (1) | Permalink

Bahan pangan yang dikonsumsi hendaknya memperhatikan aspek nutrisi dan keamanannya seperti yang tertuang dalam QS Al Baqarah: 168 dan QS Al Maidah: 88 bahwa makanan yang dikonsumsi hendaklah makanan yang halal dan baik (thoyib). Menurut Girindra (2008), kata halalan berasal dari bahasa Arab secara etimologis halla yang berarti lepas atau tidak terikat. Kata halalan juga berarti hal-hal yang boleh dan dapat dilakukan karena bebas atau tidak terikat dengan ketentuan-ketentuan yang melarangnya. Halal juga diartikan sebagai segala sesuatu yang bebas dari bahaya duniawi dan ukhrawi. Makanan yang halal adalah semua jenis makanan yang tidak mengandung unsur atau bahan yang terlarang atau haram dan atau yang telah diproses menurut syariat agama Islam (Keputusan bersama Menkes dan Menag No.427/men.kes/ksb/VIII/1985). Hal-hal yang termasuk ke dalam kriteria makanan dan minuman yang halal (Apriyantono 2001) adalah segala jenis makanan yang tidak mengandung dan tidak terjadi kontak langsung dengan sesuatu yang dianggap haram menurut Islam baik pada tahap persiapan, pemrosesan, transportasi dan penyimpanan.

Mulai detik ini, musti lebih aware sama food label, kalo biasanya kita cuma liat komposisi sm nutrition fact-nya, coba biasakan juga lihat logo halalnya, dgn halal hidup menjadi lebih tentram.
Oia, untuk Indonesia, kita bisa mengacu pada logo halal LPPOM MUI, smntara untuk produk impor dr luar negeri bisa lihat logo halal yg diakui MUI di webnya ya..,
Namun in my opinion, bukan berarti yg tidak berlogo halal adalah hal yg haram, bisa saja produk tersebut berasal dan diproses oleh hal-hal yang telah halal, namun belum mendapat sertifikat saja.

Karena lagipula (in my opinion), logo Halal adalah media yg paling mudah kita lihat dlm kemasan pangan. Hal ini untuk menghindari timbulnya keraguan dikalangan umat Islam terhadap kebenaran pernyataan halal dan juga untuk kepentingan kelangsungan atau kemajuan usaha produsen pangan, pangan yang dinyatakan sebagai halal tersebut diperiksakan terlebih dahulu pada lembaga yang diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN). Pemeriksaan tersebut dimaksudkan untuk memberikan ketentraman dan keyakinan umat Islam bahwa pangan yang akan dikonsumsi memang aman dari segi agama.

ok, Always Halal Everyday 😀

January 13th, 2012 at 6:21 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Ternyata serangga bisa jadi pewarna makanan. Pewarna dari serangga disebut juga Cochineal extract. Hal ini dikarenakan warna tersebut diekstrak dari serangga Cochineal (Dactylopuis coccus costa) betina yang dikeringkan. Hewan ini hidup pada sejenis kaktus di Kepulauan Canary dan Amerika Selatan (Winarno 2008). Zat pewarna yang terdapat di dalamnya adalah asam karminat. Terdapat dua bentuk pewarna cochineal, yaitu Ochineal extract (E120 (ii)) dan Carmine (E120(i)).

Cochineal extract terbuat dari bahan serangga yang dikeringkan dan dihaluskan dengan kandungan asam karminat 20%. Sementara itu, karmin merupakan bentuk pewarna cochineal lebih murni (lake asam karminat). Karmin diperoleh dengan cara mengekstraksi asam karminat, kemudian dilapisi dengan aluminium. Karmin digunakan untuk melapisi bahan protein yang diproses dengan menggunakan retort dan memberikan lapisan merah jambu (Winarno 2008). Asam karminat dan karmin stabil terhadap sinar tetapi tidak stabil terhadap panas, pH dan iradiasi. Warna larutan asam karminat dipengaruhi oleh nilai pH. Pada pH rendah (kondisi asam) memberikan warna jingga sementara itu pada pH tinggi (kondisi basa) memberikan warna violet (Wijaya dan Mulyono 2009). Ayo eksplorasi lagi, ada ratusan ribu serangga di dunia, peluang untuk menemukan serangga sbg sumber pewarna mungkin akn lebih besar. Have a nice exploration 😀

July 27th, 2011 at 7:33 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink
Recommendations

• Eat at least five servings (at least 400 gor 14 oz) of a variety of non-starchyvegetables and of fruits every day

• Eat relatively unprocessed cereals(grains) and/or pulses (legumes) withevery meal and limit refined starchy foods

• People who consume starchy roots or tubers should ensure intake of sufficient non-starchy vegetables, fruits, and pulses (legumes)

Review of evidence shows that plant foods probably reduce the risk of cancer through:

• Intrinsic effect: Vitamins, Minerals, Fibre (NSP) and Protective Phytochemicals

• Replacement effect: Replacement of simple sugars and animal foods such as red meat

• Indirect effect: Prevention of weight gain also reduces risk of cancer

Plant foods are an important source of water-soluble Vitamins such as Vitamin C, and B group Vitamins

• 11 out of 13 essential Vitamins are derived from plant foods

• All essential minerals found in plant foods

The Spectrum of Science is Reductionist in Content But Holistic in Context

April 10th, 2011 at 6:41 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Bagaimana Pengaturan Batas Migrasi Monomer Stirena dari Kemasan Polistirena Foam?

Pada dasarnya polistirena adalah jenis plastik yang cukup inert, tetapi mengingat penggunaannya yang cukup luas dan monomer penyusunnya yang berbahaya sehingga pemakaiannya perlu diatur. Dalam Peraturan Kepala Badan P O M  Nomor HK.00.05.55.6497 tanggal 20 Agustus 2007 tentang Bahan Kemasan Pangan, kemasan polistirena yang digunakan untuk kemasan yang kontak langsung dengan pangan berlemak seperti :

  • Tidak bersifat asam (pH < 5,0), produk-produk mengandung air, dapat mengandung garam, gula atau keduanya
  • Bersifat asam, produk-produk mengandung air, dapat mengandung garam atau gula atau keduanya, termasuk mengandung emulsi minyak dalam air dengan kandungan lemak rendah atau tinggi
  • Produk susu dan turunannya : emulsi miyak dalam air, kandungan lemak rendah atau tinggi
  • Minuman non alkohol, mengandung sampai 8% alkohol, dan lebih dari 8 % alkohol
  • Produk roti : roti lembab dengan permukaan tanpa mengandung minyak atau lemak bebas
  • Padat kering dengan permukaan tanpa mengandung minyak atau lemak bebas batas migrasi residu total monomer stirenanya sebesar 10.000 ppm.

Apa Bahaya Kemasan Polistirena Foam?

Polistirena merupakan plastik yang inert sehingga relatif tidak berbahaya bagi kesehatan, yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan terjadinya migrasi dari monomer stirena ke dalam pangan yang dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan. Bahaya monomer stirena terhadap kesehatan setelah terpapar dalam jangka panjang, antara lain :

– Menyebabkan gangguan pada sistem syaraf pusat, dengan gejala seperti sakit kepala, letih, depresi, disfungsi system syaraf pusat (waktu reaksi, memori, akurasi dan kecepatan visiomotor, fungsi intelektual) , hilang pendengaran, dan neurofati periperal.

– Beberapa penelitian epidemiologik menduga bahwa terdapat hubungan antara paparan stirena dan meningkatnya risiko leukemia dan limfoma.

– Berdasarkan data IARC, stirena termasuk bahan yang diduga dapat menyebabkan kanker pada manusia (grup 2B) yaitu terdapat bukti terbatas pada manusia dan kurang cukup bukti pada hewan.

– Monomer stirena dapat masuk ke dalam janin jika kemasan polistirena digunakan untuk mewadahi pangan beralkohol, karena alkohol bersifat dapat melintasi plasenta.

April 10th, 2011 at 5:47 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Maraknya kasus yang terkait dengan pelanggaran terhadap produk pangan sungguh mengkhawatirkan. Kita tilik lebih jauh soal produk pangan yang mengandung formalin dan boraks serta pewarna makanan bahkan sampai masalah sterilisasi produk pangan yang berkaitan dengan sistem manajemen keamanan pangan. Mulai dari mie basah dan bakso yang mengandung formalin dan boraks, pewarna pakaian pada jajanan anak-anak serta ditemukannya mikroba pada kemasan minuman. Maraknya kasus tersebut mengindikasikan kurangnya pengawasan terhadap obat dan makanan serta standar peraturan dan ketentuan keamanan pangan yang berlaku di negeri ini. Selain lemahnya pengawasan, maraknya berbagai pelanggaran terhadap produk pangan juga didukung oleh faktor minimnya upaya tidak lanjut terhadap kasus-kasus yang terungkap. Apalagi hal ini di perparah oleh ringannya sangsi yang diberikan kepada pelaku pelanggaran. Betapa tidak sangsi yang diberikan kepada pelaku hanya berupa sangsi administratif, denda, dan wajib lapor sedangkan kurungan penjara hanya yang sekejap saja.

Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, meningkatnya tingkat konsumsi ini tidak didukung oleh pengetahuan yang cukup mengenai produk pangan yang dikonsumsinya apakah sudah memenuhi standar gizi dan aman bagi kesehatan. Terlebih hal ini juga diperparah oleh pola hidup konsumen yang lebih menyukai makanan siap santap, sehingga dengan meningkatnya umur, kesehatannya juga akan semakin rentan. Di Indonesia, negara yang beriklim tropis ini memiliki tingkat kecenderungan yang tinggi akan pencemaran pangan oleh mikroba terutama bakteri patogen. Hal ini dikarenakan kondisi stabil Indonesia yang hangat dan lembab. Bayangkan, jika pada kondisi yang cocok, bakteri akan membelah menjadi dua dalam dua puluh menit maka hanya dalam waktu tujuh jam jumlah bertambah hingga lebih dari dua juta sel. WHO mencatat masih tingginya jumlah kasus penyakit akibat mengkonsumsi makanan yang tidak sehat terutama di negara berkembang.

Mendapatkan makanan sehat adalah menjadi tanggung jawab pemerintah untuk melakukan menejemen risiko dalam upaya mendapatkan makanan yang aman bagi kesehatan. Lantas bagaimana langkah kita dalam melakukan upaya untuk menanggulangi kasus pangan saat ini ? BPOM sebagai satu-satunya lembaga yang mengawasi peredaran obat dan makanan harus benar-benar menjalankan fungsi utamanya, yaitu pengawasan. Penegakan hukum juga diperlukan untuk membantu proses pengawasan. Sementara dari pihak industri, perlu adanya sistem operasi keamanan yang menunjang seperti penerapan HACCP ( Hazard Analysis Critical Control Point ) dan sertifikasi ISO : 22000. Pihak industri juga harus melakukan pengawasan dan pengkoreksian secara kontinyu dan apabila diperlukan, pihak industri dapat memberikan pelatihan dan pendidikan bagi karyawannya. Dan jika mekanisme ini berhasil kita terapkan, maka kita dapat berharap kasus pelanggaran terhadap produk pangan seperti pengunaan bahan berbahaya untuk pangan tidak terjadi lagi .

April 9th, 2011 at 7:38 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Gatal sekali rasanya tangan ini melihat isu simpang siur mengenai produk “es krim” yang diklaim mengandung unsur haram, apalagi tulisan tersebut disadur dari beberapa sumber, dan parahnya lantas ditarik kesimpulan seenaknya. Halal haram memang kini tidak hanya “milik” Islam saja, akan tetapi telah menjadi milik dunia. Sebagai umat muslim tentulah ini menjadi hal yang menguntungkan karena semakin banyak produsen pangan yang menawarkan aspek “ketentraman batin” dalam pangan yang diproduksinya.

Dua tahun terakhir beredar informasi tentang ingredient makanan yang dimunculkan dalam kode-E baik di milis-milis tertentu maupun catatan (note) fb beberapa teman yang mengindikasikan bahwa deretan kode-E tersebut pasti bersumber dari babi. Dan kini isu tentang kode-E pada salah satu produk yang telah bersertifikat halal merebak lagi, yang pastinya meresahkan masyarakat penikmat produk tersebut. Apakah kode-E tersebut?

Kode-E atau E-number  adalah kode untuk bahan tambahan/aditif makanan yang telah dikaji oleh Uni Eropa.

  • E100–E199 (colours)
  • E200–E299 (preservatives)
  • E300–E399 (antioxidants, acidity regulators)
  • E400–E499 (thickeners, stabilizers, emulsifiers)
  • E500–E599 (acidity regulators, anti-caking agents)
  • E600–E699 (flavour enhancers)
  • E700–E799 (antibiotics)
  • E900–E999 (miscellaneous)
  • E1000–E1599 (additional chemicals)
  • Anda mungkin akan melihat kode-kode E ini tercantum dalam kemasan pangan, kode ini memang sengaja dicantumkan dibelakang bahan tambahan/aditif makanan dengan tujuan untuk memudahkan dilakukan pengawasan dari aspek regulasi, toksikologi dkk. Di dunia sendiri, terdapat 2 kode bahan tambahan pangan yang beredar , yaitu E-number (dikaji oleh Eropa) dan INS (International Number System yang dikaji oleh Amerika). Perbedaan kajian ini adalah E-number telah toxicology approved, sementara INS tidak.

    Kadang-kadang pada komposisi bahan di kemasan produk pangan tertentu hanya muncul dalam bentuk kode saja, ya kode E tersebut. Sebenarnya peraturannya, untuk kepentingan perlindungan konsumen, produsen tidak dibolehkan menginformasikan bahan makanan dalam bentuk kode-E saja, harus ada dalam padanan nama bahannya. Supaya tidak terjadi informasi yang misleading (menyesatkan). Karena ada orang yang alergi dengan bahan pangan tertentu. Kalau dimunculkan dalam bentuk kode-E saja, jelas tidak semua orang bisa menterjemahkan kode tersebut. Berkaitan dengan aspek kehalalan, produsen tentu telah mempertimbangkan bahan/ raw material ataupun bahan penolong (food processing aids) halal agar menghasilkan produk halal. Beberapa aspek yang harus diperhatikan atau yang menjadi titi kritis kehalalan bahan adalah:

    1. Pelarut (solvent) beberapa bumbu,flavor memerlukan suatu pelarut untuk memudahkan pengaplikasiannya.

    Pelarut etanol boleh digunakan sebagai bahan penolong tetapi bukan pelarut akhir.  Sedangkan pelarut lainnya seperti gliserol, triacetin serta pelarut yang berasal dari turunan lemak perlu dikritisi asal usulnya

    2. bahan penyalut (coating)

    Misalnya vitamin yang merupakan produk fermentasi.  Untuk menjaga kestabilannya, vitamin-vitamin tersebut terkadang juga di-coating (dilapisi/disalut) dengan gelatin.  Gelatin sudah pasti berasal dari hewan.  Nah, hewannya tentu dapat saja dari babi ataupun sapi yang tidak disembelih secara islam.

    3. Pengemulsi

    Semua produk yang memerlukan campuran antara air/larutan tertentu dengan minyak/lemak akan memerlukan emulsifier agar  kedua bahan (air dan minyak) tersebut dapat bercampur secara homogen (merata).  Dengan demikian, pewarna dan perisa yang dilarutkan dalam air dapat dicampurkan dengan baik kedalam minyak atau lemak untuk menghasilkan mentega dengan warna dan cita rasa yang enak.  Nah, emulsifier ini merupakan mono atau digliserida yang berasal dari proses hidrolisisis lemak hewani ataupun nabati.  Bila berasal dari lemak hewani, dapat saja berasal dari lemak babi atau lemak sapi yang tidak disembelih menurut syariat islam.  Atau kalaupun dari lemak nabati, proses hidrolisis untuk menghasilkan emulsifier dapat saja menggunakan enzim yang berasal dari bahan-bahan yang haram, seperti porcine pancrease lipase (enzim lipase yang berasal dari pankreas babi).

    4. (to be continued)

    Nah itu yang harus dicermati, asalkan bahan bakunya jelas (dari hewan yang halal, disembelih sesuai syariat Islam, tidak berinteraksi dengan najis/haram) maka insya Allah produknya halal. Apalagi regulasi pangan di Indonesia sendiri sudah cukup baik (terutama untuk aplikasi pada Industri besar). Ada yang menjalankan peran di pengawasan izin edar (BPOM) ataupun aspek kehalalan produksi dan produk (LPPOM MUI).

    Ayo dong jangan gampang negatif thinking kalo nanggepin sesuatu, n jangan gampang nge-judge, masyarakat kita masih setengah terdidik, nangkep berita aja masih setengah apalagi nangkep fakta..??, Dukung Indonesia jadi negara maju dengan cara jadi masyarakat yang memiliki pola pikir terbuka namun tidak keluar dari kaidah2 agama..!

    March 25th, 2011 at 7:57 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

    Berbagai produk yang terbuat dari plastik banyak sekali digunakan untuk kemasan dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini jenis-jenis plastik dengan kodenya :

    1. PETE atau PET (polyethylene terephthalate)

    Kode : 1 PETE atau PET (Polyethylene Terephthalate) biasa dipakai untuk botol plastik seperti botol air mineral, botol minuman, botol jus, botol minyak goreng, botol kecap, botol sambal, botol obat, dan botol kosmetik. PETE/PET direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Karena penggunaan yang berulang-ulang terutama pada kondisi panas akan menyebabkan melelehnya lapisan polimer dan keluarnya zat karsinogenik SbO3 (Antimon Trioksida) dari bahan plastik tersebut, sehingga dapat menyebabkan kanker untuk penggunaan jangka panjang.
    2. HDPE (high density polyethylene)

    Kode 2 : HDPE (High Density Polyethylene) memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. HDPE biasa dipakai untuk botol kosmestik, botol obat, botol minuman, botol susu yang berwarna putih susu, galon air minum, kursi lipat, dan jerigen, pelumas, dan lain-lain. Sama halnya sepert PET, HDPE hanya direkomendasikan untuk satu kali pakai, karena pelepasan senyawa SbO3(Antimon Trioksida) terus meningkat seiring waktu. Sifat dari bahan HDPE ini apabila ditekan tidak kembali ke bentuk semula.
    Permasalahan yang muncul di dunia pangan seperti tampak pada studi kasus di atas adalah terjadinya penggunaan antimoni trioksida pada salah satu jenis plastik yang umum digunakan sebagai bahan kemasan pangan. Plastik yang dimaksud adalah jenis HDPE (High Density Polyethylene). Plastik jenis ini relative aman digunakan sebagai kemasan pangan sebab relatif tidak bereaksi dengan bahan pangan. Sayangnya, di dalam plastik HDPE terdapat senyawa antimon trioksida (SbO3) yang dapat terlepas.

    Sebuah kasus yang terjadi di Amerika Serikat bahwa sebanyak 70 orang yang meminum lemonade yang disiapkan semalam sebelumnya yang disimpan dalam wadah enamel (mengandung antimony trioksida sebesar 2.88%) mengalami keracunan. Antimon trioksida dilepaskan dari enamel karena adanya suasana asam dari lemonade. Hasil analisis ditemukan bahwa minuman limun tersebut mengandung 0.013% antimony trioksida. Tiap orang meinum sekitar 300 ml sehingga telah terekspos antimony sebanyak 36 mg , atau sama dengan dosis emetic yang ditetapkan oleh British Pharmacology (USEPA 1987).

    Penggunaan SbO3 di dalam plastik PET dan HDPE berfungsi sebagai katalis. Bahan ini digunakan karena harganya murah. Jika tidak digunakan berulang kali ataupun terkena panas, plastik PET dan HDPE relatif aman sebagai pengemas pangan.

    March 25th, 2011 at 7:06 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink